05202012Headline:
Log In | Register

Bentolicious’ Goodness

Bento Lady - Bentolicious
The pretty lady of Bentolicious

She is the lady behind all the good bento pics posted on mybentolicious.com, the one who dedicatedly reply tweets addressed to @bentolicious. Yes ladies, it’s Lia Chen.

Saat browsing, saya menemukan blog Lia secara tak sengaja dan langsung tertarik pada icon perempuan chic yang ramah di blognya. Dan tanpa sadar, esok harinya saya mampir lagi, dan lagi. Lia, mama  Audrey (11) dan Andrew (8) adalah pencinta semua hal tentang bento.

Di blognya, http://www.mybentolicious.com/, Lia banyak sekali berbagi tip dan foto berbagai kreasi bento. Bentolicious dibuat semata-mata karena keinginan berbagi inspirasi. Lia bahkan kerap menolak secara halus pesanan untuk ultah teman-teman anak, atau usulan teman-teman untuk mengubah keahliannya menjadi bisnis catering. “Ini semata-mata hobi, dan saya ingin sharing saja, ujarnya.”

Awalnya Koleksi Barang Lucu

Xmas Bento - Bentolicious
X-Mas Bento – Bentolicious

“Dari dulu, saya memang hobi mengumpulkan barang lucu. Di suatu supermarket yang punya section khusus barang-barang dari Jepang, saya jadi rajin beli barang bento – meski belum terlalu tahu fungsinya,” tutur Lia. Tahun 2005, saat berada di suatu toko buku, Lia menemukan buku tentang bento. Ia mulai tertarik mencoba, meski baru ala kadarnya.

“Anak saya yang besar punya problem susah makan. Setelah dibuatkan bento, ternyata makanannya habis.” Wortel yang dibentuk-bentuk ternyata membuat Audrey mau makan sayur.

Mulailah ia rutin membuat bento. Di masa-masa awal, Lia mengaku banyak memasukkan makanan beku. “Saat itu, saya baru mementingkan tampilan.” Kemudian sang suami menyarankan untuk mulai membuat blog agar bisa berbagi dengan mama lainnya. Ia semangat sekali menyambut ide ini. “Apalagi, selama ini selain dari buku, saya juga banyak belajar dari blog teman-teman.”

Konsep blog benar-benar ia siapkan dengan matang.  Desain tema bahkan dibantu oleh seorang teman di Malaysia. Lia juga belajar fotografi, karena suami sempat mengritik foto-foto yang kurang menarik.

Lia and her kids, Audrey and Andrew

Bekal Anak Jadi Populer

Lebih lama blogging, Lia mulai semangat bikin makanan sehat. “Bento memang harus diisi makanan sehat. Apalagi sebenarnya, prinsip bento adalah gizi seimbang: ada karbohidrat, protein dan serat”.  Ia pun makin rajin mengkreasikan bentonya, seperti karaben bento (bento karakter) yang menurutnya sangat tergantung pada kreativitas individu.

Bekal anak-anaknya pun cepat menjadi populer di kalangan teman sekolah. Teman-teman Audrey, si sulung, selalu ingin tahu bekalnya hari itu. Begitu pula teman si bungsu Andrew. “Lucunya, Andrew sempat malu dan berhenti minta dibawakan bento karena bekalnya berbeda dari teman-temannya. Tapi karena komentar yang datang positif, lama-kelamaan ia mau kembali dibekali. “Suruh Mamimu bikin Pokemon dong..” atau “Aku pengen makan siang seperti ini, deh!”.

Cute Bento Witch Girl, Special for Halloween

Bento, Bukan untuk Dipuji

Seberapa besar komunitas bento di Indonesia? “Cukup besar – meski dari statistik di blog, readers kebanyakan dari luar, apalagi saat pertama kali blogging dua tahun lalu, ketertarikan tentang bento belum meluas di sini.” Sampai sekarang, readers tertinggi Bentolicious adalah dari Amerika dan Singapura. Indonesia ada di urutan ketiga.  Agar jangkauannya lebih luas, blog Lia memang ditulis dalam bahasa Inggris.

Begitu besar passion-nya pada bento, setiap trip ke luar negeri Lia selalu hunting barang bento. Di Jepang, menjelang tahun ajaran baru bulan Maret-April pasti keluar barang bento yang baru, mulai dari box, cetakan, dll. Sampai sekarang, koleksi foodpick-nya mencapi 100 set! “Di Jepang, para ibu diwajibkan membuat bento untuk anak usia TK. Karena itu mereka jadi ‘berkompetisi’, dan banyak yang membuat buku.”

Lantas, kapan waktu terbaiknya untuk menulis blog? “Biasanya saat habis antar bento untuk anak ke sekolah. Saya ngopi sambil menunggu mereka pulang, membalas comments yang masuk”. Hit Bentolicious per harinya mencapai sekitar 1200. “Saat ada event spesial seperti Halloween, Christmas dan Chinese New Year, lebih tinggi lagi.”

Saat ini, ia juga belajar food styling. “Untungnya suami benar-benar supportive. Dia mendukung belajar fotografi,  koleksi tools, dll.” Menutup obrolan, Lia berpesan, “Bento kita buat untuk anak kita. Jadi fokusnya ke situ. Bukan untuk dipuji. Jadi, tetaplah bikin bento walaupun belum berhasil bikin macam-macam bentuk”. Ia berharap, sampai anak-anak besar, tetap bisa bikin bento. “Tentu nggak harus yang karaben (karakter),” ujarnya sambil tertawa.

Ingin mengintip berbagai kreasi bento Lia? Silakan klik http://www.mybentolicious.com/

Interview by Dian Pertiwi & Karmenita Ridwan. Written by Dian Pertiwi

 

 

 

 

 

Related posts: